Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5

Bali Kembali Jadi Lokasi "Shooting" Film Hollywood



Denpasar - Setelah tahun lalu menjadi lokasi shooting film Eat, Pray, Love yang dibintangi Julia Roberts, kali ini Bali kembali dipilih sebagai lokasi film dengan judul I, Alex Cross. Film yang disutradarai oleh Rob Cohen ini dibuat berdasarkan karakter Alex Cross yang sering muncul dalam novel populer karya James Patterson.

Rob Cohen yang terkenal lewat karya Fast and The Furious ini memilih pesisir timur Pantai Jasri, Candidasa, Karangasem, Bali, sebagai lokasi untuk adegan klimaks film. Tak bisa dimungkiri, sejak tahun 1930-an, Bali memang memiliki daya tarik tersendiri bagi para penulis dan sutradara film karena pesona alamnya.

"Pemilihan lokasi shooting di Indonesia merupakan suatu kesempatan untuk memperkenalkan destinasi dan budaya Indonesia, memberikan kesempatan kepada industri film (industri kreatif) di Indonesia untuk berpartisipasi pada pembuatan film ini," kata Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu saat mengunjungi lokasi shooting film tersebut di Karangasem, Sabtu (22/10/2011).

Di samping itu, Mari menuturkan, hal ini juga akan memperkuat branding atau image Indonesia di mata dunia sehingga diharapkan akan berdampak pada kunjungan wisatawan mancanegara.

Aktor utama film yang akan dirilis pada pertengahan tahun 2012 ini adalah Tyler Perry. Dia berperan sebagai seorang detektif bernama Alex Cross, yang melacak keberadaan pembunuh bernama Gilles Mercier.

Tokoh Gilles Mercier diperankan oleh Jean Reno, aktor Perancis yang terkenal antara lain karena perannya di film Leon: The Professional, Godzilla, The Da Vinci Code, dan The Pink Panther. Film yang difasilitasi oleh Bali Film Center ini rencananya akan melibatkan 35 kru lokal dan 20 pemeran pendukung dari Indonesia.

2050, Pulau Bali Diramalkan Tenggelam



Denpasar - Indonesia bakal kehilangan daerah wisata yang tersohor di dunia. Pulau Bali diprediksi bakal hilang tenggelam pada 2050 mendatang, akibat adanya perubahan iklim dan tingginya karbondioksida (CO2) di sekitar pulau Dewata tersebut.

Prediksi tenggelamnya Pulau Bali merupakan kesimpulan dari hasil pertemuan United Nation Climate Change Conference (UNFCCC) tahun 2007 lalu di Bali.

"Benar ada prediksi itu. Hal itu terjadi akibat adanya perubahan iklim tingginya karbondioksida (CO2) di sekitar Pulau Bali," ujar Kepala Dinas Pekerjaan Umum Bali, Dewa Punia.

Dijelaskan Dewa Punia, rekomendasi UNFCCC 2007 lalu pulau itu dijadikan pilot project. Dibantu badan dunia, saat ini sedang diupayakan agar karbondioksida (CO2) di sekitar Pulau Bali, terutama Pulau Nusa Penida dan Klungkung dapat dikurangi. "Bantuan banyak yang digelontor di sana," katanya. (ans)

Wisman di Bali meningkat 5%-6% sepanjang kuartal satu



Kuta - Promosi pelaku bisnis pariwisata menjelang musim libur berhasil mendongkrak tingkat kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Bali. Nyoman Suwidjana, Wakil Ketua Bali Tourism Board mengatakan, kunjungan wisman ke Bali dalam kuartal I-2011 lalu mengalami pertumbuhan sebesar 5%-6%.

"Walaupun belum terjadi musim libur, namun pertumbuhannya mulai terasa di Bali," ujar Nyoman, Senin (9/5). Kebanyakan wisman ini berlibur di daerah Kuta dan Sanur.

Menurut Nyoman, peningkatan pengunjung wisman ini dikarenakan Bali telah mencanangkan tahun ini sebagai daerah hub, alias pusat pengumpul wisman. "Kita dan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata berencana menjadikan Bali sebagai pintu utama untuk menarik wisman," lanjut Nyoman.

Agar dapat tercapai, saat ini Bali Tourism Board tengah meningkatkan pelayanan, fasilitas, sarana, dan prasarana dalam rangka menyambut musim libur. Selain itu, Bali Tourism Board juga sudah melakukan promosi online demi menjaring wisman. Walhasil, di kuartal II-2011 nanti kunjungan ke bali diharapkan bisa meningkat 10% dari periode sama 2010.

Catatan saja, Badan Pusat Statistik mencatat, selama kuartal I-2011 lalu jumlah wisman yang berkunjung ke Indonesia mencapai 1,7 juta orang. Jumlah ini tumbuh 6,44% dibandingkan dengan periode sama tahun 2010. (sumber)

Warga Sekitar Bali Elephant Camp Keluhkan Kotoran Gajah



Badung - Warga Banjar Buangga, Desa Getasan, Kecamatan Petang, Badung, Bali mengeluhkan kotoran gajah milik Taman Wisata Bali Elephan Camp di wilayah itu yang kerap dibiarkan berceceran di jalan raya.

"Sebenarnya pengelola sudah menyiapkan petugas kebersihan, tapi mereka jarang bekerja, sehingga kotoran gajah ini tidak ada yang ngurus berceceran di jalan raya," ujar Santi, seorang warga Buangga, Sabtu (21/8).

Disebutkan dia Kotoran binatang mamalia raksasa itu berasal dari taman wisata Bali Elephan Camp yang berlokasi tak jauh dari desa tersebut. Biasanya, gajah gajah asal Sumatra ini membuang kotorannya saat berkeliling ke seputaran desa membawa para wisatawan.

Akibatnya, setiap hari terdapat gundukan kotoran gajah sehingga cukup menanggu kenyamanan warga setempat karena selain mengeluarkan bau juga berserakan dijalan. Kotoran gajah tersebut selain dikeluhkan warga sebenarnya berdampak juga pada citra wilayah itu.

"Ratusan wisatawan asing yang menikmati suasana pedesaan dari atas punggung gajah tentu terganggu juga dengan pemandangan tak sedap itu," ucapnya.

Sejumlah warga menuturkan sebenarnya pihak pengelola menyiapkan petugas khusus untuk membersihkan kotoran gajah yang ada di lintasan tersebut. Namun, entah kenapa akhir-akhir ini, petugas tidak membersihkan dan malah membiarkan kotoran ini berserakan di jalan raya. (sumber)

Film Julia Roberts Meledak, Bali Berharap Banjir Wisatawan



Bali - Meledaknya film Eat, Pray, Love. – film romantis spiritual yang mengambil lokasi di Italia, India dan Bali – di bioskop-bioskop Amerika hari-hari ini, serta merta melambungkan harapan bagi Indonesia, khususnya di sektor pariwisata .

Dalam daftar film sukses akhir pekan di bioskop-bioskop AS, USA Box Office Summary, Eat, Pray, Love menduduki posisi ke dua, di bawah The Expendables (Sylvester Stallone Cs), dengan perolehan USD 23,1
Juta.

Seiring dengan demam Eat Pray, love, kini laris pula bermacam produk yang menyertainya. Selain paket pariwisata ke Bali, tentunya. Pesan spiritual film ini telah menjelma menjadi kampanye pemasaran besar-besaran, tulis VoAnews.com dalam laporannya, beberapa hari terakhir.

Selain mengambil lokasi Bali, Indonesia, Eat, Pray, Love, suting di Istana Pataudi Haryana ( India), Roma, Lazio, (Italia), serta Brooklyn dan New York City (AS).

Kini ada lebih dari 400 produk yang diberi merek ‘Eat, Pray, Love,’ mulai dari mesin pembuat kopi, hingga perhiasan. Semua bisa dibeli di toko atau melalui shopping channel di televisi.

Julia Roberts, aktris Hollywood pertama yang menembus honor USD 20 juta (180 miliar) per film ini, segera memnghipnotis jutaan penggemarnya di film ini, dan mendorong mereka untuk melakukan perjalanan wisata spiritual ke Pulau Dewata.

Akan halnya merebaknya bisnis marchendise atawa pernak-pernik film, tak sedikit penggemar yang protes, karena merasa kisah inspiratif ini seolah tak lebih dari sekedar ajang berjualan.

Tapi, sang pengarang buku memoir yang mengilhami film ini, Elizabeth Gilbert, membela keberadaan berbagai pernak-pernik Eat, Pray, Love. Kata Gilbert, “Kebanyakan orang tak bisa keliling dunia selama setahun. Mungkin dengan membeli lilin, mereka bisa merasa dekat dengan kisah ini.”

Bagi Indonesia, komersialisasi film ini membawa dampak positif, berupa meningkatnya minat warga Amerika atas produk dan juga perjalanan wisata ke Indonesia, kata VoAnews.com.

Pengamat wisata Amerika memproyeksi Bali akan mengalami lonjakan pengunjung akibat film Eat, Pray, Love. Berbagai hotel dan pelaku industri wisata di Bali telah membuat beragam paket wisata spiritual untuk memanfaatkan momentum ini. (sumber)

Top