Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5

Uniknya Tradisi Omed-omedan di Bali

Tradisi Omed-omedan
Denpasar - Ada ritual unik pada Ngembak Geni (sehari setelah perayaan Nyepi). Ritual yang  menjadi tradisi turun temurun itu adalah omed-omedan.

Omed-omedan diperkirakan ada sejak abad ke-17 dan terus berlangsung hingga saat ini. Omed-omedan berasal dari kata omed, yang berarti menarik. Tradisi unik ini digelar di Desa Adat Banjar Kaja, Sesetan Denpasar.

Ketua Panitia omed-omedan, I Made Aria Pramana, menuturkan bahwa sekali waktu di masa lalu, tradisi ini pernah ditiadakan. Tetapi, tiba-tiba di tengah desa muncul dua ekor babi hutan yang saling bertarung. Masyarakat Desa Sesetan menganggap hal tersebut sebagai pertanda buruk.

Melihat pertanda ini, sesepuh desa pun segera memanggil kembali para muda-mudi untuk berkumpul dan menyelenggarakan omed-omedan seperti biasa. Setelah kejadian itu, tradisi ini terus diadakan secara rutin sebagai upaya, agar desa terhindar dari malapetaka. Wali Kota Denpasar, Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra berharap, warisan budaya ini dapat terus lestari.

"Kami harapkan, melalui pelaksanaan kegiatan ini dapat melestarikan budaya omed-omedan dengan melibatkan seka teruna," ujarnya, Minggu 22 Maret 2015. Pelaksanaan omed-omedan ini diikuti 150 teruna (pemuda) dan teruni (pemudi) yang ada di Banjar Kaja.

Seluruh pemuda dan pemudi wajib untuk mengikutinya, karena ini merupakan tradisi sakral yang harus dilestarikan. Wali kota berharap, melalui kegiatan omed-omedan yang merupakan warisan leluhur yang cukup unik ini dapat menjadi salah satu daya tari pariwisata.

Dalam tradisi ini, para muda-mudi setempat dikelompokkan menjadi dua yaitu pria dan wanita. Sebelum ritual dimulai, seluruh peserta mengikuti upacara persembahyangan bersama di Pura Banjar. Setelah ritual sembahyang, ditampilkan pertunjukkan tari barong bangkung (barong babi) yang dimaksudkan untuk mengingat kembali peristiwa beradunya sepasang babi hutan di desa ini.

Kemudian, kedua kelompok ini berbaris berhadap-hadapan dipandu pecalang. Kemudian. Secara bergantian dipilih seorang dari masing-masing kelompok untuk diangkat dan diarak pada posisi paling depan barisan. Kedua kelompok ini, kemudian saling beradu dan kedua muda-mudi yang diposisikan paling depan harus saling berpelukan dan berciuman.

Saat keduanya saling berpelukan dan berciuman, masing-masing kelompok akan menarik kedua rekannya tersebut hingga terlepas. Jika kedua muda-mudi ini tidak juga dapat dilepaskan, panitia akan menyiram mereka dengan air hingga basah kuyup.



Penulis: -
Sumber: Viva.co.id

Tiga Kabupaten Ikut Agenda Wajib di Pesta Kesenian Bali 2015

Penari bali di acara PKB bali 2014
Denpasar - Pada Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-37 tahun 2015, setiap duta seni kabupaten/kota dituntut untuk bisa mengikuti seluruh agenda kesenian dari program unggulan yang telah ditetapkan dalam ajang PKB tahun ini.

Agenda tersebut mulai dari pawai, lomba, pergelaran, pameran, serasehan, serta dokumentasi.

Hal ini diungkapkan oleh Kepala Dinas dan Kebudayaan Bali, Dewa Putu Beratha kepada Tribun Bali beberapa waktu lalu.

Dari data yang dimilikinya dan dikutip Tribun Bali, tercatat sekitar 22 ragam kesenian unggulan yang wajib diikuti oleh setiap duta seni kabupaten/kota, dalam pelaksanaan PKB yang akan berlangsung selama satu bulan penuh mulai 13 Juni hingga 11 Juli 2015.

"Berdasarkan catatan Disbud Bali, sebagai penyelenggara PKB hanya tiga duta seni kabupaten/kota yang mengikuti seluruh program unggulan wajib dalam PKB ke-37 tahun ini, yakni Badung, Gianyar dan Denpasar," ujarnya.

Sedangkan, duta seni kabupaten/kota yang lain belum mampu memenuhi target dengan alasan terkendala faktor pendanaan atau dana operasional.

Seperti, Bangli yang tidak mengikuti program parade arja dan kesenian wayang kulit khas kabupaten/kota.

Sementara, Jembrana memilih absen dalam program parade arja, drama gong remaja, dan kesenian rekonstruksi, serta kesenian wayang kulit khas kabupaten/kota, begitu juga dengan beberapa kabupaten lainnya.



Penulis: -
Sumber: Tribun bali

Tradisi Perang Lumpur Usai Nyepi ala Pemuda Bali

Tradisi Perang Lumpur ala Pemuda Bali
Denpasar - Para pemuda di Desa Kedonganan, Kecamatan Kuta, Badung, Bali menggelar tradisi unik usai perayaan hari Nyepi lewat perang lumpur.

Tradisi ini sarat dengan makna filososi sebagaimana diterangkan Humas Pemuda Eka Chanti, I Made Sudarsana bahwa aksi saling lempar lumpur itu turun temurun. Kata dia, perang lumpur itu dikenal dengan tradisi mebuug-buugan berasal dari kata Buug yang artinya tanah atau lumpur. "Mebuug-buugan berarti interaksi dengan menggunakan tanah atau lumpur," ulas Sudarsana, Minggu (22/3/2015)

Menariknya, tradisi ini sejatinya telah vakum selama 60 tahun dan mulai Nyepi tahun ini kembali dihidupkan. Awalnya, kawula muda di wilayah itu mencoba meneliti dan membangkitkan kembali tradisi itu dan mendapat respons positif tokoh masyarakat setempat.

Sudarsana mengungkapkan, tujuan tradisi itu tak lain untuk menetralisir hal-hal atau sifat buruk. Jadi, mebuug-buugan itu manusia divisualisasikan sebagai tanah atau lumpur sebagai wujud Bhutakala. "Kekotoran yang melekat pada manusia itulah yang harus dibersihkan," jelasnya.

Karenanya, pihaknya berharap tradisi di desanya bisa segera dicatatkan ke Dinas Kebudayaan sehingga tetap bisa dilestarikan. Konon, dalam tradisi itu, semua pesertanya bugil atau telanjang bulat. Lantaran, menuai kontroversi dan anak muda malu akhirnya mengalami kemandegan sosial.

Keberadaannya pun hilang seiring waktu. Meski pernah dibangkitkan kembali namun tetap belum bisa menemukan eksistensinya.

Hal sama disampaikan Ketua Karang Taruna Eka Chanti, I Wayan Yustisia Semarariana yang menyambut positif kreativitas anak muda di wilayahnya dalam upaya melestarikan warisan leluhur. "Tentu saja, kami senang tradisi ini diinisiasi kembali nantinya akan terus disosialisasikan kepada generasi muda lainnya," sambungnya.

Pihaknya berharap, tradisi ini bisa terus terjaga dengan baik karena sebenarnya sarat dengan nilai historis dan filosofisnya. Tidak hanya itu, di masa mendatang dengan kemasan yang lebih menarik bukan tidak mungkin warisan budaya leluhur iti bisa menjadi ikon Desa Adat Kedonganan.

Dalam perang lumpur itu, semua pesertanya adalah kaum laki-laki semua usia mulai anak-anak sampai orang tua. Dengan bertelanjang dada, mereka menggunakan kain khas Bali yang dilipat untuk menutup bagian terlarang. Mereka berperang bersama-sama dengan menggunakan lumpur saling lempar dalam suasana keceriaan dan kebersamaan.


Penulis: -
Sumber: Okezone

Kasus Penganiayaan Anak Warnai Nyepi di Bali

Kapolda Bali Irjen Ronny F. Sompie
Denpasar - Kapolda Bali Irjen Ronny F. Sompie, mengatakan pelaksanaan Hari Raya Nyepi pada Sabtu 21 Maret 2015, di Bali berlangsung aman dan kondusif.

Ia menerangkan selama perayaan Nyepi tersebut, tidak ada kasus kejahatan yang menonjol. "Kejadian menonjol tidak ada, antisipasi terorisme dan kegiatan yustisi tidak ada hal yang berkembang," jelas Ronny dalam pesan tertulisnya, Minggu (22/3/2015).

Kendati demikian, ada empat kasus yang terjadi yakni dua kasus pidana dan dua kasus terkait kamtibmas selama Nyepi.

"Di Polres Tabanan ada dua kasus, yang ikut ogoh-ogoh keracunan makanan tapi tidak ada korban meninggal, hanya dirawat di RSUD, dan kasus penganiayaan anak. Di Polres Bangli, terjadi kasus penganiayaan anak. Di Polres Karang Asem, ada satu kasus penemuan tulang belulang yang diduga manusia," jelasnya.

Sementara penerbangan keluar dan masuk wilayah Bali pada Minggu mulai pukul 06.00 WITA telah dibuka kembali.

Pada perayaan Nyepi, seluruh umat Hindu melaksanakan Catur Brata Penyepian dimana ada empat pantangan yang tidak boleh dilakukan selama satu hari penuh dimulai sejak Jumat tengah malam hingga Minggu pagi.

Empat Brata atau pantangan tersebut yakni Brata Amati Geni dimana umat tidak boleh menyalakan api, Brata Amati Lelanguan tidak boleh melaksanakan kegiatan yang berfoya-foya atau bersenang-senang secara berlebihan.

Brata Amati Lelungan tidak boleh berpergian, harus tetap diam di rumah dan Brata Amati Karya tidak boleh melakukan pekerjaan.


Penulis: -
Sumber: Okezone

Polisi: Situasi Selama Nyepi di Bali Aman

Pecalang Amankan Hari Raya Nyepi 2015
Denpasar - Kepolisian Daerah Bali menyatakan bahwa secara umum situasi di Pulau Dewata selama rangkaian Hari Raya Nyepi Tahun Baru Caka 1937 berlangsung aman dan tidak ada gangguan keamanan yang menonjol.

"Kegiatan pengamanan selama Pengerupukan dan Nyepi tidak terjadi kasus yang menonjol," kata Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Bali Komisaris Besar Hery Wiyanto di Denpasar, Ahad.

Meski demikian, lanjut Hery, gesekan antarpemuda antarbanjar (dusun) sempat terjadi pada saat Pengerupukan atau sehari menjelang Hari Raya Nyepi, yang biasanya diwarnai arak-arakan "ogoh-ogoh" atau patung raksasa yang berwajah menyeramkan.

"Namun hal itu bisa diselesaikan secara musyawarah sehingga tidak berlanjut," ucapnya.

Sebelumnya menjelang pelaksanaan Nyepi yakni pada saat Pengerupukan, Kepala Polda Bali Inspektur Jenderal Ronny Frengky Sompie secara langsung memantau keamanan di dua wilayah hukum yakni di Denpasar dan Kabupaten Badung.

Mantan Kepala Divisi Humas Mabes Polri itu mengontrol pengamanan pawai "ogoh-ogoh" atau patung raksasa sehari menjelang Hari Raya Nyepi Tahun Baru Caka 1937 yang jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2015.

Pihak kepolisian, kata dia, berkoordinasi dengan petugas keamanan adat khas Pulau Dewata atau pecalang untuk memastikan keamanan rangkaian Hari Raya Nyepi.

Hari Raya Nyepi merupakan hari suci umat Hindu yang berlangsung selama 24 jam dengan empat pantangan atau catur brata penyepian yakni Amati Karya atau tidak boleh bekerja, Amati Geni atau tidak boleh menghidupkan api atau lampu, Amati Lelanguan atau tidak boleh bersenang-senang dan Amati Leluangaan atau tidak boleh bepergian.


Penulis: Hazliansyah
Sumber: Republika

Ngembak Nyepi, Suasana Bali Berangsur Normal

Pecalang berpatroli di jalan Tol Bali Mandara saat Hari Raya Nyepi
Bali - Ngembak Nyepi, sehari setelah umat Hindu menunaikan ibadah Tapa Beratha Penyepian Tahun Baru Saka 1937, Minggi (22/3/2015) suasana Bali  berangsur-angsur normal. Aktivitas masyarakat hari pertama memasuki Tahun Baru Saka 1937 secara bertahap mulai normal, namun warga setempat belum melakukan kegiatan secara maksimal.

Toko-toko sepanjang jalan trotoar di Kota Denpasar dan sekitarnya masih banyak yang tutup, namun sejumlah pasar tradisional mulai dikunjungi masyarakat, meskipun jalan-jalan masih tampak lengang.

Suasana hari raya masih menyelimuti Bali yang juga bertepatan pada hari Minggu, sehingga perkantoran pemerintah dan swasta di Bali libur, termasuk anak-anak sekolah.

Pada Ngembak Nyepi, masyarakat saling berkunjung ke keluarga atau kerabat dekat untuk saling maaf-memaafkan (silaturahim) atau mengunjungi objek-objek wisata untuk rekreasi. Masyarakat lainnya sudah mulai melakukan aktivitas, terlihat dari kehidupan pasar, seperti Pasar Badung dan Kumbasari yang sejak pagi hari itu sudah
cukup ramai.

Sementara itu, kesibukan ekstra dilakukan oleh tenaga kebersihan Kota Denpasar. Mereka bekerja keras menyingkirkan dan mengangkut sampah yang menumpuk di pemukiman maupun tepi jalan. Puluhan truk pengangkut sampah sudah beroperasi sejak pagi hari dari tempat-tempat pengumpulan sampah ke tempat pembuangan akhir di kawasan Suwung, pinggiran Kota Denpasar.

Dalam rangkaian perayaan Nyepi, umat Hindu melakukan berbagai kegiatan ritual yang banyak memproduksi sampah dari bekas banten/sesaji, serta aneka bungkus makanan-minuman ketika warga melakukan malam "pengerupukan" dengan mengarak ogoh-ogoh, boneka raksasa berwajah menyeramkan.


Penulis: -
Sumber:  Antara

Tutup Akhir Tahun, Kebakaran Melanda Denpasar

Denpasar - Kebakaran yang melanda komplek pertokoan di perempatan Jalan Imam Bonjol, Teuku Umar, dan Marlobor, Denpasar, mengejutkan warga kota yang tengah menikmati libur hari Natal dan Tahun Baru 2014.

Api menghanguskan toko Surya Ban, dan dua toko lainnya yang berdampingan. Terjadi sekira pukul 09.00 WITA.

"Api benar-benar bisa dikuasai sekira pukul 11.00 WITA. Sekarang masih pendinginan," jelas Kepala Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Kota Denpasar Made Prapta, saat dihubungi, Kamis (26/12/2013).

Belum diketahui pasti penyebab kebakaran, karena pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan dengan mengumpulkan data-data dan bukti di lapangan. Dari tiga toko yang terbakar, Surya Ban yang terparah, karena sebagian besar barang-barang di dalamnya gampang terbakar.

Petugas Pemadam Kebakaran (Damkar) BPBD Denpasar mengerahkan sedikitnya empat unit mobil PMK untuk menjinakkan api. "Tadi, mobil-mobil PMK bolak balik mengambil air sungai tak jauh dari lokasi, ya sampai tujuh kali," imbuh Prapta.

Sampai saat ini, belum diketahui berapa kerugian akibat insiden di akhir tahun yang mengakibatkan arus lalu lintas macet beberapa lama mengingat lokasi persis dekat perempatan jalan.

Pemilik toko masih syok belum bisa dimintai keterangan terkait kebakaran tersebut. "Tadi waktu kami tanya, diam terus masih syok, belum ada laporan besaran kerugiannya," imbuh dia. (Snd)

Bali Persiapkan Kriket untuk PON Jabar

Denpasar - Bali mulai memilih atlet-atlet berbakat di cabang olahraga kriket dari kalangan pelajar untuk dipersiapkan pada perhelatan akbar tingkat nasional yakni Pekan Olahraga Nasional (PON) Jawa Barat 2016.

"Saya bersyukur kepada Jawa Barat yang bersedia mempertandingkan Kriket cabang olahraga jenis baru di Indonesia pada arena PON nanti," kata Ketua Harian Pengprov Kriket Bali, Made Erawan MAP di Denpasar Kamis.

Ia menjelaskan, Bali sudah memiliki atlet-atlet Kriket berpengalaman bertanding ke mancanegara, tetap akan menjaring anak-anak muda terutama para pelajar menggemari olahraga ini.

Cabang olahraga kriket mulai diperkenalkan di kalangan pelajar di daerah ini dan dalam program sosialisasi tersebut dengan mendatangi sekolah akan bergandengan tangan dengan mahasiswa FPOK IKIP Bali.

Made Erawan mengaku, cabang olahraga Kriket masih terdengar asing di telinga masyarakat karena olahraga yang satu ini memang belum poluler di Indonesia.

Padahal, perkembangannya cukup pesat, yakni sudah ada pemprovnya pada 17 daerah di tanah air termasuk di Bali.

Kriket berbeda dengan olahraga kasti yang bersifat lokal, olahraga ini justru bersifat internasional, karena permainan yang telah lama dikenal masyarakat dunia, khususnya negara-negara berlatar belakang sejarah yang mengadopsi budaya dan tradisi bangsa Inggris, seperti India, Pakistan, Australia, dan sebagainya.

Esensi dasar dari olahraga ini adalah semangat dan keselarasan antara persaingan sehat dan kerja sama tim yang solid dan kompak. Atlet kriket Bali sudah sering berlaga di tingkat Internasional seperti di Australia, Jepang, India, Papua Nugini.

Atlet kriket Bali pernah juara dua tingkat nasional tahun 2011, oleh sebab itu Pengprov daerah ini lebih memasyarakatkan cabang olahraga jenis baru, maka pengprov kriket Bali menggandeng IKIP PGRI Bali.

Ketua Yayasan IKIP PGRI Bali Drs IGB Arthanegara, SH MPd, ketika dikonfirmasi menyatakan, pengelola perguruan tinggi swasta ini menyambut baik kerja sama tersebut. "Kami siap bekerja sama dengan Pemprov kriket Bali," kata dia. (Ant)

Top